DIFFERENT LIFE
“Hai geeky, sini kau ‼” ucap seseorang yang bertubuh besar,
berwajah garang. “Palli aah !‼” bentaknya tak sabar.
Kulangkahkan kakiku menuju dia, “Aa a ada apa ?” tanyaku
gemetaran.
“Yak tak usah seperti itu, biasa saja” ucapnya sambil
mengelus-elus rambutku. “Apa kau sudah makan ?”
“Su su sudah”
“Yak kalau begitu, makan ini” katanya sambil menunjuk piring
penuh makanan sisa dia. “Ayooo” tekannya.
Kutelan ludahku dengan susah payah, bagaimana bisa aku
makan-makanan sisa dia atau makanan yang bisa dibilang sampah ini. Tapi apalah
dayaku, aku hanya seorang pesuruh jika aku melawan, tamat riwayatku, jika aku
makan ih tak bisa dibayangkan.
“Cepaaaat, apa kau mau kusuapi”
“Tidak tidak” segera kumakan makanan sampah ini, dalam setiap
suapan perutku seperti menolak, serasa ingin muntah.
“Anak pintar, selesaikan makanan itu dalam 3 detik atau akan
kutambah pekerjaanmu, dimulai dari
sekarang 1 2 3”
Dengan tergesa-gesa kumakan makanan sampah ini.
“Ya sayang sekali, dirimu kurang cepat. Baiklah karena kau
kalah maka malam ini kau harus ikut denganku. Arrasho ?”
Kuanggukkan kepalaku.
Aku adalah seorang pesuruh disekolahku, aku sering dibully
teman-teman sekelasku. Mereka selalu berpandangan rendah terhadapku, tak ada
yang mau menolongku. Tatapan mereka, hinaan mereka, cacian mereka itu adalah
makanan ku tiap hari.
Disuruh ini disuruh itu, hidupku penuh perintah. Jika melawan
mereka akan memukuliku sampai pingsan. Nyawaku ini ingin sekali menjatuhkan
tubuhku dari atap tempat yang tinggi lalu melompat dan mati, tapi ragaku ini
tak pernah mau melakukannya. Setiap ingin melakukannya tubuhku gemetar tubuhku
kaku tubuhku melemah tubuhku terasa berat, kaki-kaki ini tak dapat menopang
tubuhku. Rasa takut rasa sedih rasa marah bercampur jadi satu. Dan hasilnya tak
pernah berhasil.
Aku anak orang kaya, pintar tapi karena aku berpakaian culun,
memakai kaca mata besar, menggunakan baju yang selalu rapi, selalu membawa buku
kemana-kemana, tak ada orang yang tau. Yang mereka ketahui aku ini hanya
pesuruh seorang ketua geng salah satu disekolahku.
Meratapi hidup ini
sendirian, tak punya teman, bahkan orangtua pun tak pernah bertanya bagaimana
keadaanmu bagaimana sekolahmu yang mereka tau hanya aku adalah anak mereka,
mereka terlalu sibuk dengan dunia mereka sendiri.
Hanya sebuah laptop inilah yang aku miliki, yang kusayangi yang
tak pernah menghilang setiap aku membutuhkan yang tak pernah mengejekku yang
tak pernah penyuruhku yang tak pernah mencaciku, dia merupakan sebuah harta
benda yang berharga melebihi keluargaku, dia adalah sahabatku.
Setiap hari selalu kuungkapkan rasa dihatiku ini, tidak dalam
bentuk ucapan tapi dalam bentuk tulisan. Kuketik setiap kata huruf kalimat bersamanya.
.
.
Kriiiiiiing
Kriiiiiiiing
Kriiiiiiiiing
Jam beker itu terus saja berdering, memudarkan mimpi ku yang
tenang menjadi sebuah gempa yang memporak-porandaku dunia mimpi ini.
Mandi sarapan lalu pergi kesekolah, entah mengapa setiap
bangun pagi tubuh ini secara otomatis akan pergi kesekolah. Jiwa ini berharap
bolos, raga ini berkeinginan masuk. Sungguh bertentangan.
“Hai kau” baru selangkah memasuki gerbang sekolah, seseorang
memanggilku dari kejauhan, jari telunjuknya bergerak-gerak mengisyaratkan untuk
ku hampiri dia.
Mampus, tadi malam aku ketiduran. Harus bagaimana ini ? lari
atau menghampiri ? hanya itu pilihannya.
Kulangkahkan kakiku pelan menuju nya. Disetiap langkan selalu
ku berdoa supaya dia tidak marah padaku.
“Maaf tadi malam aku disuruh ibuku untuk menjaga rumah tidak
boleh pergi kemana-mana” ucapku seadanya berbohong.
“Haahhahah, jadi kamu ini anak mami ya. Oooh kasihan sekali
anak mami ini ? Harusnya kau lawan ucapan ibumu itu, kita ini anak muda jangan
disuruh-suruh dong” dia lalu menjambak rambutku sehingga membuatku berlutut
padanya.
“Aaah maaf” ucapku kesakitan sambil memegang kepalaku. Orang-orang
hanya berlalu lalang seperti biasa, bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
“Apaaa ? Maaf ? Hahhahaha bodoh. Ayo hajar dia” ajaknya pada
teman-teman segrombolannya.
**Skip** ini terlalu ironis untuk dikatakan, bayangkan saja
seperti difilm-film. Oooh ya aku belum memberitahu kalian namaku kan. Namaku Kim
SeokJin anak kelas 1 disebuah sekolah teknik ketrampilan seoul.
.
Huft, tubuhku memar semua, pipi kanan pipi kiri penuh luka
berdarah. Sebenarnya aku ingin melawan
bukan hanya ingin tapi aku memang bisa kok melawan. Aku ini pemegang sabuk
tinggi disebuah perguruan bela diri. Jika kalian pikir-pikir kenapa aku ini
tidak mau melawan atau memberi tahu siapa sebenarnya aku ini. Ikuti terus ya
cekidot….
to be continue ....
Nocopas ya, always
follow me.
Jangan lupa tinggalkan
komentar ... JJ
hafildahero@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar